Di era konsumerisme digital saat ini, setiap individu rata-rata terpapar ratusan hingga ribuan pesan komersial setiap harinya. Remaja, sebagai salah satu target pasar yang paling rentan, sering kali menjadi sasaran empuk bagi strategi pemasaran yang agresif. Menyadari hal tersebut, SMPN 73 Jakarta mengambil langkah proaktif dengan memasukkan materi literasi media yang sangat spesifik, yaitu program Dekonstruksi Iklan. Program ini dirancang untuk membekali para remaja dengan kemampuan berpikir kritis agar mereka tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi mampu membedah pesan-pesan tersembunyi di balik layar kaca maupun media sosial.
Proses dekonstruksi yang diajarkan di sekolah ini dimulai dengan membedah anatomi sebuah pesan komersial. Para siswa diajak untuk melihat melampaui visual yang menarik dan musik yang menggugah emosi. Guru-guru di sekolah ini memberikan pelatihan tentang bagaimana mengenali teknik-teknik persuasi, seperti penggunaan otoritas palsu, penciptaan rasa takut akan ketinggalan tren (FOMO), hingga penggunaan standar kecantikan yang tidak realistis. Dengan memahami cara kerja industri pemasaran, mereka mulai menyadari bahwa banyak iklan yang sebenarnya tidak sedang menjual solusi, melainkan sedang menciptakan masalah fiktif dalam pikiran konsumennya.
Salah satu fokus utama dalam kurikulum ini adalah bagaimana menangkal manipulasi psikologis yang sering digunakan oleh perusahaan besar. Di ruang kelas, siswa diminta membawa contoh iklan yang sering mereka lihat di gawai masing-masing. Mereka kemudian berdiskusi kelompok untuk mempertanyakan setiap elemen: mengapa warna tertentu digunakan, siapa audiens yang dituju, dan apa yang sebenarnya tidak disebutkan dalam iklan tersebut. Melalui praktik langsung ini, siswa belajar untuk memisahkan antara fakta produk dengan klaim-klaim berlebihan yang hanya bertujuan untuk memicu impuls belanja.
Penerapan program ini di SMPN 73 Jakarta juga sangat menekankan pada aspek etika dan kejujuran. Siswa diajarkan untuk bersikap skeptis namun tetap rasional. Mereka dilatih untuk mencari sumber informasi pembanding sebelum mempercayai sebuah janji manis dari iklan layanan atau produk tertentu. Kemampuan untuk melakukan pengecekan fakta (fact-checking) menjadi keterampilan dasar yang terus diasah. Hal ini sangat krusial, mengingat saat ini batas antara konten organik dan konten bersponsor sering kali sengaja dikaburkan oleh para pemberi pengaruh atau influencer di dunia maya.