Membangun budaya literasi di lingkungan sekolah merupakan investasi jangka panjang yang tidak ternilai harganya. Di SMPN 73, kesadaran akan pentingnya membaca diwujudkan melalui sebuah gerakan sosial yang menyentuh seluruh lapisan warga sekolah, yaitu program Donasi Buku. Program ini lahir dari sebuah visi sederhana namun mendalam: bahwa setiap lembar kertas yang berisi ilmu pengetahuan memiliki potensi untuk mengubah masa depan seorang siswa. Dengan mengumpulkan buku-buku berkualitas dari para alumni, orang tua murid, hingga masyarakat umum, sekolah ini berupaya menciptakan gudang ilmu yang lebih segar dan relevan dengan perkembangan zaman.
Kondisi perpustakaan sekolah seringkali menjadi cermin dari semangat intelektual siswanya. Sebelum gerakan ini digalakkan, koleksi yang ada mungkin terasa mulai usang atau kurang menarik minat baca generasi z yang lebih menyukai visual dan isu-isu kontemporer. Namun, melalui inisiatif donasi ini, rak-rak yang dulunya sepi kini mulai terisi dengan berbagai genre, mulai dari ensiklopedia sains terbaru, novel fiksi remaja yang inspiratif, hingga buku-buku pengembangan diri. Kehadiran koleksi yang variatif ini secara otomatis mengundang rasa ingin tahu siswa untuk kembali menyambangi perpustakaan di sela-sela waktu istirahat mereka.
Proses pengumpulan buku dilakukan dengan manajemen yang sangat rapi. Setiap buku yang masuk dikurasi terlebih dahulu oleh tim pustakawan untuk memastikan kontennya sesuai dengan usia pelajar SMP dan masih dalam kondisi layak baca. Setelah lolos kurasi, buku-buku tersebut diberi label khusus sebagai bentuk apresiasi kepada donatur. Hal ini menumbuhkan rasa bangga bagi para pemberi dan rasa terima kasih bagi para pembaca. Koleksi perpustakaan baru ini tidak hanya sekadar tumpukan kertas, melainkan simbol kepedulian komunitas terhadap kualitas pendidikan anak bangsa di SMPN 73.
Manfaat dari penambahan koleksi ini sangat terasa dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Guru-guru kini memiliki referensi tambahan yang lebih luas saat memberikan tugas riset kepada siswa. Siswa tidak lagi hanya terpaku pada buku paket wajib, tetapi didorong untuk mencari sudut pandang lain dari buku-buku donasi tersebut. Kemampuan analisis siswa pun terasah karena mereka terbiasa membandingkan informasi dari berbagai sumber. Literasi bukan lagi tentang menghafal, melainkan tentang bagaimana perluas wawasan dan memahami dunia dari berbagai perspektif yang berbeda.