Empon Empon Go Global: Kebun Rempah Siswa SMPN 73

Kekayaan rempah-rempah Indonesia telah lama menjadi incaran dunia sejak berabad-abad silam. Namun, di era modern ini, tantangannya adalah bagaimana memperkenalkan kembali kekayaan tersebut kepada generasi muda agar tidak terlupakan. Di SMPN 73, sebuah inisiatif luar biasa muncul melalui pemanfaatan lahan sekolah untuk budidaya tanaman rimpang. Program yang bertajuk pengembangan Empon Empon Go Global ini bertujuan untuk mengedukasi siswa mengenai khasiat tanaman obat asli nusantara sekaligus membuka wawasan mereka mengenai potensi ekonomi tanaman ini di pasar internasional.

Kegiatan ini dimulai dengan pembuatan kebun rempah yang tertata rapi di salah satu sudut sekolah. Para siswa diajarkan untuk mengenali berbagai jenis rimpang, mulai dari jahe merah, kunyit, temulawak, hingga kencur. Selama ini, banyak siswa yang mungkin hanya melihat tanaman tersebut dalam bentuk bubuk atau sudah menjadi bumbu dapur di rumah. Dengan menanamnya sendiri, siswa SMPN 73 mendapatkan pengalaman tangan pertama tentang bagaimana bentuk daun, bunga, dan cara memanen rimpang yang benar. Mereka belajar bahwa tanaman ini membutuhkan kesabaran karena masa panennya yang tidak secepat sayuran daun.

Edukasi yang diberikan tidak hanya sebatas cara menanam, tetapi juga mencakup nilai manfaat bagi kesehatan. Di tengah tren gaya hidup sehat yang sedang melanda dunia, permintaan akan bahan pangan organik meningkat secara global. Siswa diajarkan bagaimana senyawa aktif dalam kunyit atau jahe sangat dicari oleh industri farmasi luar negeri untuk bahan suplemen dan kecerahan kulit. Dengan pemahaman ini, siswa mulai memandang tanaman tradisional bukan lagi sebagai sesuatu yang kuno, melainkan sebagai komoditas strategis yang memiliki daya saing tinggi di masa depan.

Dalam proses perawatannya, para siswa menggunakan sistem pertanian organik. Mereka membuat pupuk cair sendiri dan memastikan tidak ada pestisida kimia yang menyentuh tanaman di kebun rempah tersebut. Hal ini sangat penting karena standar pasar internasional sangat ketat terhadap residu kimia. Melalui praktek ini, siswa belajar tentang standar kualitas yang diperlukan agar produk lokal bisa diterima oleh masyarakat global. Mereka juga diajak untuk melakukan riset sederhana mengenai negara-negara mana saja yang menjadi importir terbesar rempah Indonesia, seperti Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat.