Masalah ketersediaan air bersih dan pengelolaan limpasan air hujan menjadi tantangan besar bagi kota metropolitan seperti Jakarta. Di tengah beton yang mendominasi, SMPN 73 Jakarta mengambil langkah inovatif dengan membangun fasilitas yang disebut sebagai Kolam Pemurni. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya sekolah untuk mengedukasi siswa mengenai pentingnya konservasi sumber daya air sekaligus memberikan solusi nyata terhadap genangan air yang sering muncul saat musim penghujan tiba. Melalui sistem ini, air tidak lagi dibuang begitu saja ke saluran drainase kota, melainkan dikelola sebagai aset berharga.
Sistem yang diterapkan di sekolah ini menggunakan prinsip filtrasi biologis. Air hujan yang jatuh di area atap dan lapangan sekolah dialirkan menuju sebuah kolam khusus yang dirancang dengan berbagai lapisan penyaring. Di dalam kolam tersebut, terdapat lapisan pasir, kerikil, dan arang aktif yang berfungsi menyaring sedimen serta polutan yang terbawa dari udara. Namun, kunci utama dari kemampuan olah air hujan di SMPN 73 Jakarta adalah penggunaan tanaman air pemurni (fitoremediasi). Tanaman seperti eceng gondok, melati air, dan lidi air ditempatkan secara strategis untuk menyerap logam berat dan zat kimia berbahaya secara alami.
Proses pemurnian secara alami ini menjadi laboratorium hidup bagi para siswa. Mereka diajak untuk memantau kualitas air secara berkala, mengukur tingkat kejernihan, hingga memeriksa pH air hasil olahan. Dari hasil pengamatan tersebut, air yang telah melewati kolam pemurni terbukti jauh lebih bersih dan aman untuk digunakan kembali. Siswa belajar bahwa alam memiliki mekanismenya sendiri untuk menyembuhkan diri, asalkan manusia memberikan ruang yang tepat. Pengetahuan praktis ini memberikan pemahaman mendalam tentang siklus hidrologi perkotaan yang sering kali terganggu oleh pembangunan yang tidak ramah lingkungan.
Hasil dari kolam pemurni ini kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan di lingkungan SMPN 73 Jakarta. Air yang telah bersih digunakan untuk menyiram tanaman di kebun sekolah, membersihkan area selasar, hingga mengisi tangki-tangki cadangan untuk kebutuhan non-konsumsi. Hal ini secara signifikan mengurangi ketergantungan sekolah pada pasokan air tanah atau air PAM, yang pada akhirnya menurunkan biaya operasional sekolah. Penghematan ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan lingkungan yang baik juga membawa dampak ekonomi yang positif dan berkelanjutan bagi institusi pendidikan.