Kesadaran akan kelestarian lingkungan kini mulai merambah dunia olahraga di sekolah menengah. SMPN 73 Jakarta mengambil langkah inovatif dengan memperkenalkan fenomena plogging kepada para siswanya. Istilah yang berasal dari kombinasi kata jogging dan memungut sampah (plocka up) ini menjadi inti dari gerakan baru yang bertujuan menjaga kebugaran tubuh sekaligus kebersihan lingkungan perkotaan. Melalui inisiatif ini, sekolah ingin menunjukkan bahwa olahraga lari tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan jantung, tetapi juga bisa menjadi sebuah aksi nyata dalam menjaga ekosistem kota yang semakin padat dan penuh dengan limbah plastik.
Pelaksanaan kegiatan ini berfokus pada rute lari di sekitar wilayah sekolah dan ruang publik di Jakarta. Para siswa dibekali dengan sarung tangan dan kantong sampah ramah lingkungan sebelum memulai sesi lari pagi mereka. Gerakan plogging ini menuntut fleksibilitas fisik yang lebih tinggi dibandingkan lari biasa, karena peserta harus sering melakukan gerakan jongkok dan membungkuk untuk mengambil sampah yang tercecer di jalanan. Gerakan-gerakan ini secara tidak langsung berfungsi sebagai latihan kekuatan otot kaki dan inti tubuh, menjadikan aktivitas ini sebagai bentuk olahraga full-body workout yang efektif bagi remaja di tingkat SMPN.
Jakarta sebagai kota metropolitan sering kali menghadapi tantangan serius terkait manajemen sampah di fasilitas umum. Dengan melibatkan generasi muda dalam kegiatan ini, SMPN 73 Jakarta sedang menanamkan rasa memiliki dan tanggung jawab sosial terhadap kota mereka. Para siswa belajar bahwa bersihkan lingkungan bukan hanya tugas petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab setiap warga negara. Setiap botol plastik, puntung rokok, atau bungkus makanan yang mereka kumpulkan adalah kontribusi nyata untuk mencegah penyumbatan saluran air yang sering menjadi penyebab banjir di ibu kota. Edukasi lingkungan yang dilakukan secara langsung di lapangan jauh lebih membekas di benak siswa dibandingkan hanya teori di dalam kelas.
Selain aspek fisik dan lingkungan, kegiatan ini juga membangun semangat kebersamaan dan kerja sama tim. Siswa berlari dalam kelompok kecil, saling menyemangati, dan berbagi tugas dalam mengumpulkan jenis sampah tertentu. Hal ini menciptakan suasana olahraga yang menyenangkan dan tidak membosankan. Pihak sekolah juga bekerja sama dengan komunitas lingkungan setempat untuk memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah hasil plogging tersebut, sehingga limbah yang terkumpul dapat disalurkan ke bank sampah atau fasilitas daur ulang yang tepat. Ini adalah rantai nilai positif yang menghubungkan aktivitas sekolah dengan solusi lingkungan yang lebih luas.