Sekolah Hijau di Tengah Kota: SMPN 73 Jakarta Ajarkan Siswa Cintai Lingkungan

Di tengah padatnya beton dan gedung-gedung pencakar langit Jakarta, keberadaan ruang terbuka hijau menjadi sesuatu yang sangat mewah. Namun, SMPN 73 Jakarta berhasil mendobrak stigma sekolah perkotaan yang gersang dengan bertransformasi menjadi sekolah hijau. Institusi ini tidak hanya menyediakan tempat belajar yang nyaman, tetapi juga menjadikan ekosistem lingkungan sebagai bagian dari kurikulum nyata yang dipraktikkan setiap hari oleh seluruh warga sekolah.

Konsep sekolah hijau yang diusung bukan sekadar tentang menanam banyak pohon di halaman. Lebih jauh lagi, sekolah ini membangun kesadaran kolektif agar setiap siswa memiliki tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan alam. Melalui berbagai program inovatif, para pendidik di sana berusaha menanamkan nilai agar siswa benar-benar cintai lingkungan sejak usia dini. Mereka diajarkan bahwa sekecil apapun aksi yang dilakukan, seperti memilah sampah atau menghemat penggunaan air, akan memberikan dampak besar bagi masa depan bumi yang kini tengah menghadapi krisis iklim.

Salah satu praktik unggulan di SMPN 73 Jakarta adalah pengelolaan sampah mandiri. Siswa dilatih untuk membedakan sampah organik dan anorganik secara disiplin. Sampah organik kemudian diolah menjadi kompos yang digunakan untuk menyuburkan taman sekolah, sementara sampah anorganik dikelola melalui bank sampah untuk didaur ulang menjadi barang bernilai guna. Proses ini memberikan pemahaman praktis kepada siswa bahwa limbah bukanlah akhir dari siklus, melainkan sumber daya yang bisa dimanfaatkan kembali jika dikelola dengan kecerdasan dan kreativitas.

Selain itu, sekolah ini juga menerapkan kebijakan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di area kantin. Siswa didorong untuk membawa botol minum dan tempat makan sendiri dari rumah. Kebiasaan ini mungkin terlihat sederhana, namun secara jangka panjang, hal ini membentuk karakter siswa yang peduli pada pengurangan jejak karbon. Lingkungan sekolah yang asri dengan udara yang lebih segar terbukti mampu meningkatkan fokus dan konsentrasi siswa dalam belajar. Suasana “paru-paru kota” di dalam sekolah ini menjadi oase yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk tengah kota yang bising.

Pembelajaran mengenai lingkungan juga diintegrasikan ke dalam mata pelajaran seperti sains dan geografi. Siswa diajak melakukan observasi langsung terhadap tanaman-tanaman yang ada di sekolah, mempelajari sistem filtrasi air, hingga memahami pentingnya energi terbarukan melalui panel surya skala kecil yang mulai diperkenalkan. Dengan pendekatan ini, teori yang ada di buku teks menjadi lebih hidup dan mudah dipahami karena siswa melihat implementasinya secara nyata di depan mata mereka. Pendidikan lingkungan hidup di sini bukan lagi sekadar hafalan untuk ujian, melainkan gaya hidup yang mendarah daging.