SMPN 73 Jakarta: Implementasi Sekolah Aman Bencana dalam Kurikulum Merdeka

Dunia pendidikan saat ini tengah mengalami transformasi besar melalui semangat kemandirian belajar. Di tengah perubahan tersebut, SMPN 73 Jakarta melihat peluang untuk memasukkan nilai-nilai keselamatan sebagai bagian integral dari pembentukan profil pelajar Pancasila. Salah satu aspek yang menjadi perhatian serius adalah bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang tangguh menghadapi berbagai risiko alam di ibu kota. Dengan mengadopsi standar global, sekolah ini berupaya memastikan bahwa setiap aktivitas akademik dilakukan dalam koridor keselamatan yang terjamin dan terukur implementasi bagi seluruh warga sekolah aman.

Langkah strategis yang dilakukan sekolah adalah melalui implementasi sekolah aman bencana yang komprehensif. Konsep ini mencakup tiga pilar utama: fasilitas sekolah yang aman, manajemen bencana di sekolah, serta pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana. SMPN 73 melakukan audit struktural terhadap gedung sekolah untuk memastikan ketahanan terhadap guncangan gempa dan risiko kebakaran. Selain itu, sekolah juga menyiapkan prosedur operasional standar (SOP) yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan oleh guru, siswa, dan staf administrasi saat alarm darurat berbunyi, sehingga tidak ada keraguan dalam bertindak saat krisis terjadi.

Hal yang menarik dari program ini adalah integrasi materi keselamatan ke dalam kurikulum merdeka. Melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), siswa diajak untuk mengeksplorasi tema-tema kebencanaan secara mendalam. Mereka tidak hanya belajar secara pasif di dalam kelas, tetapi melakukan proyek nyata seperti membuat peta risiko sekolah, menyusun jalur evakuasi yang lebih efisien, hingga menciptakan alat peringatan dini sederhana. Pendekatan ini selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pada pembelajaran berbasis proyek dan pengembangan kompetensi praktis yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari siswa.

Proses pendidikan ini bertujuan untuk membangun kesadaran kolektif bagi seluruh siswa. Siswa dilatih untuk memiliki tanggung jawab atas keselamatan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Mereka diajarkan untuk peka terhadap lingkungan, seperti memastikan pintu darurat tidak terkunci atau tidak ada benda berat yang menghalangi jalan keluar. Kemandirian ini sangat penting agar saat terjadi bencana, siswa mampu mengambil keputusan yang tepat tanpa harus selalu menunggu instruksi dari guru. Karakter tangguh dan sigap ini merupakan salah satu perwujudan dari profil pelajar yang bernalar kritis dan kreatif dalam mencari solusi.