Keamanan dan keselamatan warga sekolah merupakan prioritas yang tidak boleh dikesampingkan, bahkan saat seluruh penghuninya sedang menjalankan ibadah puasa. Di SMPN 73, kesadaran akan potensi bencana yang bisa terjadi kapan saja direspons dengan langkah yang sangat proaktif. Meskipun energi fisik cenderung menurun karena menahan lapar dan dahaga, sekolah ini justru memilih momentum bulan suci untuk mengadakan kegiatan simulasi mitigasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap siswa dan guru tetap memiliki kewaspadaan tinggi dan refleks yang tepat dalam menghadapi situasi darurat tanpa terganggu oleh kondisi fisik yang sedang berpuasa.
Kegiatan ini didasari oleh pemahaman bahwa bencana tidak mengenal kalender maupun waktu ibadah. Justru, saat tubuh sedang dalam kondisi lemas, risiko terjadinya kecelakaan akibat kelalaian atau lambatnya respons bisa meningkat. Oleh karena itu, tema tetap siaga diangkat agar seluruh elemen sekolah memahami cara menyelamatkan diri secara efektif namun efisien dalam penggunaan energi. Simulasi yang dilakukan mencakup berbagai skenario, mulai dari gempa bumi hingga pencegahan kebakaran akibat arus pendek listrik yang sering terjadi di lingkungan padat penduduk.
Proses latihan di SMPN 73 dirancang sedemikian rupa agar tidak menguras energi secara berlebihan namun tetap edukatif. Para instruktur memberikan materi tentang jalur evakuasi yang benar dan titik kumpul yang aman. Siswa diajarkan untuk tidak panik dan mengikuti arahan ketua kelas atau guru pendamping. Dalam konteks puasa, ketenangan pikiran adalah kunci utama; kepanikan hanya akan memicu detak jantung yang cepat dan menguras sisa tenaga yang ada. Dengan melatih kontrol diri di tengah keterbatasan fisik, siswa secara tidak langsung sedang mempraktikkan esensi puasa, yaitu pengendalian diri secara menyeluruh.
Selain latihan fisik, simulasi ini juga mencakup edukasi mengenai pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Siswa dilatih cara menangani rekan yang mungkin pingsan atau mengalami dehidrasi berat saat evakuasi berlangsung. Pengetahuan ini sangat krusial agar setiap individu bisa menjadi penyelamat bagi orang di sekitarnya. Pihak sekolah menekankan bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama, dan solidaritas sosial yang kuat di bulan Ramadan menjadi modal berharga untuk saling menjaga satu sama lain dalam situasi krisis.