Zero Bullying! Program ‘Friendship Ambassador’ SMPN 73 yang Patut Ditiru

Masalah perundungan atau bullying masih menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan remaja di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Namun, sebuah terobosan luar biasa datang dari SMPN 73 Jakarta yang berhasil menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan penuh kekeluargaan. Melalui komitmen yang kuat, sekolah ini mendeklarasikan status Zero Bullying di seluruh area lingkungan mereka. Kunci utama keberhasilan ini bukan terletak pada peraturan yang keras atau pengawasan CCTV yang ketat di setiap sudut, melainkan pada sebuah inovasi sosial yang sangat menyentuh sisi kemanusiaan siswa, yaitu pembentukan program ‘Friendship Ambassador’ atau Duta Persahabatan.

Konsep Zero Bullying di SMPN 73 dibangun di atas kesadaran bahwa siswa lebih cenderung mendengarkan rekan sebaya mereka dibandingkan orang dewasa dalam hal interaksi sosial. Oleh karena itu, sekolah memilih beberapa siswa dari setiap kelas untuk dilatih menjadi ‘Friendship Ambassador’. Siswa-siswa terpilih ini bukan hanya mereka yang memiliki prestasi akademik tinggi, tetapi mereka yang memiliki kecerdasan emosional dan empati yang menonjol. Tugas utama mereka adalah menjadi mediator konflik, pendengar yang baik bagi teman-teman yang merasa kesepian, serta menjadi garda terdepan dalam mendeteksi tanda-tanda awal terjadinya intimidasi fisik maupun verbal sebelum masalah tersebut membesar.

Pelatihan bagi para duta ini dilakukan secara intensif dengan melibatkan psikolog anak dan ahli komunikasi. Mereka diajarkan bagaimana cara melakukan pendekatan yang persuasif kepada pelaku perundungan tanpa harus memojokkan. Program Zero Bullying ini bekerja dengan cara merangkul, bukan memukul. Ketika terjadi perselisihan, ‘Friendship Ambassador’ akan mengajak kedua belah pihak untuk berdialog dalam sebuah sesi “Lingkaran Damai”. Di sana, siswa diajak untuk saling memahami perasaan satu sama lain. Pendekatan dari hati ke hati ini terbukti jauh lebih efektif dalam mengubah perilaku siswa dibandingkan dengan pemberian sanksi skorsing yang terkadang justru memicu dendam baru di luar sekolah.